RSS Feed

Berburu Pesona Bawah Laut di Kepulauan Banda

image

NAIRA   - Belasan fotografer dari dalam dan luar negeri yang mengikuti lomba foto bawah laut bertemakan Banda Underwater Photo Rally Competition 2010,Rabu pagi (28/4) dengan menggunakan KM Siwalima milik Pemerintah Provinsi Maluku, menuju Pulau Run yang merupakan salah satu pulau terluar dari tujuh gugusan pulau di Kecamatan Banda. Di pulau tersebut, mereka berpetualang menikmati keindahan bawah laut yang menjadi obyek fotonya.
Koordinator panitia penyelenggara lomba foto bawah laut, Ronald Soefajin mengaku, Pulau Run merupakan salah satu dari sekian banyak lokasi penyelamanan yang indah di Kepulauan Banda dengan tumbuhan soft coral maupun hard coral yang tergolong subur, serta terjaga kelestariannya secara alamiah.Menurut dia, para fotografer merasa tidak sabar  tiba di pesisir pantai Pulau Run.
Pulau Run tergolong kecil dan terpencil. Tetapi pulau yang ditumbuhi ribuan pohon pala, juga memiliki pesona bawah laut yang sangat indah dan alamiah sehingga menarik perhatian para penyelam untuk menjelajahinya.”Karakteristik lokasi penyelaman di dive site ini berupa wall (dinding karang) terjal yang ditumbuhi beraneka ragam terumbu karang, memiliki banyak goa kecil, dan cekungan yang bisa dimasuki para penyelam. Di samping itu, terdapat berbagai jenis ikan karang, dan pelagis dalam jumlah besar yang mudah ditemui sehingga menambah kecantikan alam bawah laut pulau tersebut,” akunya.
Selain Pulau Run, para fotografer juga melakukan penyelaman di Pulau Ay. “Laut Pulau Ay airnya sangat bersih dan jernih dengan karaketeristik berupa dinding karang yang dipenuhi aneka karang langka, menantang para fotografer dan penyelam untuk mengabadikannya dengan kamera maupun video,” tutur Ronald yang juga instruktur dalam penyelaman itu.
Dia mengakui, visibility pada lokasi penyelaman di Pulau Run dan Pulau Ay sangat bagus. Para fotografer pun betah berlama-lama, dan berulang kali melakukan penyelaman untuk mendapatkan objek foto terbaik yang bisa mereka abadikan.”Kecantikan alam bawah laut di Pulau Ay dan Pulau Run, membuat saya dan para fotografer benar-benar terbuai,” ujar artis Ringgo Agus Rahman yang ikut menyelam sebagai penggembira bersama belasan fotografer dalam dan luar negeri itu.
Ringgo mengakui, sempat melakukan penyelaman hingga mendekati kedalaman 49 meter di dua pulau tersebut. Menurut dia, hingga kedalaman tersebut kondisi air lautnya sangat jernih, dan memudahkan pandangan mata meskipun tanpa menggunakan masker selam.
“Luar biasa pemandangan alam bawah lautnya yang didukung dengan air laut yang jernih, sehingga memudahkan pandangan penyelam. Belum lagi, berbagai jenis ikan karang yang mudah dujumpai dalam jumlah besar,” ujarnya.
Dia juga mengakui, telah melakukan penyelaman di banyak lokasi selam di tanah air. Namun baru kali ini dirinya menemukan kondisi bawah laut yang masih perawan dihiasi beraneka terumbu karang, serta bebas dari ancaman bom ikan maupun penggunaan potasium sianida di Kepulauan Banda.
Mayjen TNI. M Noer Muis selaku pemrakarsa lomba mengaku, kompetisi foto bawah laut dalam ranfkaian kegiatan Sail Banda tersebut merupakan hasil gagasan para fotografer muda Indonesia.”Mereka melihat Banda sangat bersejarah, tetapi jarang didatangi para wisatawan sehingga menggagas event ini agar menarik minat wisatawan untuk berkunjung kembali ke Banda guna menikmati berbagai objek wisata alam maupun bahari yang masih alamiah,” ujar Pangdan I/Bukit Barisan itu.
Mantan Pangdam XVI/Pattimura itu menilai, respons masyarakat di Kepulauan Banda terhadap pelaksanaan lomba sangat baik.”Masyarakat sangat antusias untuk mendukung event ini, termasuk masyarakat di Pulau Ay yang bisa bertemu dan bercengkerama dengan artis yang selama ini hanya dilihat melalui layar televisi, ternyata bisa mampir di desa mereka,” ungkapnya.
Dia juga mengharapkan agar masyarakat di Kecamatan Banda dapat menjaga kelestarian lingkungan, sehingga potensi alam di darat maupun di bawah laut dapat terus dijaga sebagai warisan dan kekayaan anak-cucu di masa mendatang.”Keindahan bawah laut Kepulauan Banda merupakan kekayaan tidak ternilai yang perlu dijaga dan dipelihara kelestariannya, terutama menghindari kegiatan pemboman ikan dan penggunaan potasium yang berdampak merusak terumbu karang yang menjadi habitat berkembangbiaknya berbagai jenis ikan,” kata Noer Muis.
Dalam lomba foto bawah laut di Kepulauan Banda,  ikan mandarin (synchiropus splendidus) yang merupakan salah satu ikan langka juga menjadi target buruan para fotografer dalam dan luar negeri yang mengikuti lomba. “Saya benar-benar penasaran ingin mengabadikan mandarin fish yang terkenal di dunia, dan menjadi ikon pariwisata dunia saat ini,” ucap Aida Kurnia Fitri, salah satu peserta lomba saat berada di Neira, Rabu (28/4). .
Lokasi penyelaman di perairan sekitar dermaga Neira dan Gunung Api Banda dijuluki para penyelam dalam dan luar negeri sebagai mandarin city. Alasannya,  lokasi tersebut merupakan habitat berkembangbiaknya ikan mandarin, dan mudah dijumpai kapan saja. “Saya bentul-betul penasaran dengan mandarin fish, karena ikan ini tergolong malu-malu sehingga tidak mudah untuk memotretnya. Butuh kesabaran luar biasa untuk mengakrabkan diri dengan lingkungan sekitar, dan membuat ikannya menjadi terbiasa dengan kehadiran penyelam, barulah ikan ini bisa dipotret,” imbuh peserta asal Jakarta itu.
Peserta lainnya, Stefani asal Medan juga mengaku penasaran dengan Mandarin Fish yang tergolong ikan karang langka itu. Pasalnya, dia belum berhasil mengabadikannya.
“Ikannya malu-malu, kalau melihat kehadiran penyelam langsung bersembunyi di antara karang sehingga saya sulit memotretnya,” aku Josephine Suciptja peselam asal Medan. Dia bahkan melakukan penyelaman selama tiga kali di lokasi spot mandarin city, agar dapat memotret ikan yang tergolong cantik itu karena guratan warna-warni yang ada di setubuhnya.
Peserta lomba lainnya, Harry Susanto mengaku sudah memotret mandarin fish. Namun karena merasa hasilnya kurang bagus, dia memilih menyelam selama dua hari agar dapat memotret ikan tersebut.
“Hari pertama saya sudah bisa memotret mandarin fish. Tetapi hasilnya kurang bagus sehingga harus memanfaatkan dua hari terakhir lomba, untuk melakukan beberapa kali penyelaman terutama malam hari agar memperoleh hasil optimal sebelum foto-fotonya dikumpulkan untuk dinilai para juri,” kata dia.
Instruktur selam yang mendampingi para peserta melakukan penyelaman, Pieter Manihin mengatakan, perairan sekitar dermaga dan Gunung Api Banda merupakan habitat berkembangbiaknya ikan Mandarin. “Habitat ikan langka ini hanya ada di antara perairan sekitar dermaga dan Pulau Gunung Api. Karena itu lokasi ini oleh para penyelam disebut mandarin city,” ucapnya.
Ikan yang menjadi ikon pariwisata internasional ini hanya memiliki panjang tubuh berkisar 10 hingga 15 centimeter.Kebiasannya keluar dari karang untuk mencari makan, hanya pada pagi dan malam hari.
Menurut Pieter, penyelam harus rela bersabar dan menunggu lama jika ingin melihat mandarin fish keluar dari tempat persembunyinnya untuk dipotret. “Kalau penyelam sabar menunggu, maka bisa mendapatkan banyak gambar tingkah laku mandarin fish, termasuk saat ikan-ikan ini melakukan perkawinan, mengingat saat ini mulai memasuki musim kawin ikan mandarin,” tuturnya.
Dia menambahkan, mandarin fish menjadi target buruan para peserta Banda Underwater Photo Rally Competition 2010 untuk ketegori makro. Mereka merasa penasaran, dan terpaksa melakukan penyelaman berulang kali pada pagi dan malam hari untuk mengabadikan ikan langka ini. ant/*

Fri, 30 Apr 2010 @21:24


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 5+9+8

Welcome
image

ekspresi


AMBON - MALUKU
Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Artikel Terbaru
BERITA

Copyright © 2014 PT SITEKNO · All Rights Reserved